![]() |
| Sumber: Google |
Mungkin banyak sobat yang pernah mengalami hal seperti ini? Saya pun pernah. Mungkin perasaan yang sobat rasakan saat mengalaminya tidak jauh berbeda dengan yang saya rasakan. Sakit hati, kecewa, marah, jengkel, dan hal-hal negatif lainnya hanya itu yang ada di pikiran kita. Bagaimana tidak, orang yang kita sangat percaya, orang yang sudah kita anggap sahabat ternyata "menusuk" kita.
Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya, bagaimana saya bisa bangkit dari keterpurukan (hehee sedikit lebay boleh dong) masalah yang saya alami dulu. Ini cuma sekedar saling berbagi pengalaman, sempat teman-teman yang sedang mengalami bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya :)
Jadi ceritanya begini, saya punya seorang sahabat yang bisa dikatakan saudara saya. Kenapa tidak, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas saya satu sekolah sama dia. Dan sampai kuliahpun saya satu univeristas walaupun saya dan dia beda fakultas. Dan selama itu kami begitu akrab, tapi tidak sekarang :( Setelah dia dekat sama si A. Yang dulunya kalau pulang kampung saya dan dia sering pulang bareng sekarang tidak, yang dulunya kalau sudah di kampung sering keluar bareng sekarang tidak.
Masalahnya memang mengenai si A ini. Seorang yang dulunya "dekat" dengan saya, taulah maksudnya.. Dan memang selama saya dekat sama si A, teman saya ini menjadi salah satu orang yang saya tempati curhat, setiap masalah saya sama si A pasti saya cerita sama dia. Dan dia pun sering cerita mengenai kehidupan pribadinya ke saya. Namun semuanya berubah setelah saya berpisah dengan si A, dan ternyata teman saya ini jadian sama si A.Saat itu saya benar-benar sakit hati dan kecewa ke teman saya ini. Dan hubungan kami pun jadi renggang. Dan sering kali pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi diantara kami. Dan sampai saat ini saya masih merasakan persahabatan kami tidak seperti dulu lagi.
Rasa kecewa yang saya rasakan kepada teman saya ini kurang lebih 5 bulan selalu menghantui pikiran saya. Ditambah sikap si A yang sering marah-marah tidak jelas ke saya, dan yang paling terakhir saat dia mengatai saya "pepayu" entah apa yang dia maksudkan sehingga mengatai saya seperti itu. Dan mulai saat itu saya sadar bahwa saya memang harus melupakan mereka. Namun untuk melupakan hal seperti itu tidak semudah yang saya pikirkan. Berkali-kali saya coba untuk melupakan masalah itu, berkali-kali saya minta maaf ke teman saya namun akhirnya rasa kecewa itu tidak bisa hilang.
Suatu hari kira2 pkul 02.30 subuh sebelum saya tidur saya membuka buku renungan saya dan saya merenungi suatu bagian judulnya itu Selidikilah Aku. Di awal renungan ini ada tertulis seperti ini Air susu dibalas air tuba. Peribahasa itu artinya kebaikan dibalas dengan kejahatan. Peribahasa ini muncul karena sikap orang yang kerap melupakan kebaikan yang pernah diterimanya dari orang lain. Bahkan yang lebih buruk adalah membalas kebaikan itu dengan kejahatan. Nah, kalau seseorang membalas kebaikan dengan kejahatan, lantas apa yang akan terjadi kemudian? Bisa dipastiin, perbuatan baik akan berhenti dan perbuatan jahatlah yang akan muncul sebagai balasannya. Jadi akhirnya kejahatan dibalas dengan kejahatan. Dari sini saya dapat simpulkan bhwa kebanyakan orang akan membalas kejahatan jika ia diperlakukan jahat pula. Namun sikap seperti ini sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Coba deh sobat baca Matius 5:38-48, disini Tuhan mengajarkan kita untuk tidak hanya membalas kebaikan dengan kebaikan namun juga membalas kejahatan dengan kebaikan. Kenapa? Karena dengan demikian kita menjadi berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Dengan demikian kita menerapkan kasih seperti yang diajarkan Tuhan. "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?" (Matius 5:46).
Pada ayat ini mungkin kita berpikir bahwa apa yang Tuhan katakan sulit untuk kita lakukan, kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Tapi, kita sebagai orang percaya harus melakukan apa yang Tuha ajarkan kepada kita dan ini adalah tantangan bagi kita. Namun, ingatlah bahwa tantangan terbesar bagi kita, orang percaya bukanlah seberapa lama sudah menjadi Kristen, seberapa banyak ayat Alkitab yang kita hafal, atau sebanyak apakah pelayanan yang kita ikuti, melainkan sejauh mana kita bisa menaati perintah Tuhan dalam menjalani hidup sehari-hari. Salah satunya adalah bersedia terus melakukan kebaikan, sekalipun orang lain membalasnya dengan kejahatan. (Renungan Anak Muda)
Dari perenungan saat itu saya diingatkan untuk menghilangkan pemikiran negatif saya terhadap teman saya itu. Dan mulai saat itu saya bisa melupakan masa lalu saya, dan saya berusaha untuk memaafkan apapun yang telah terjadi pada saya dulu. Baik yang dilakukan teman saya atau si A. Dan setelah saya merenungi ayat tersebut saya berdoa, saya mendoakan mereka. Mendoakan mereka yang terbaik, karena dengan mendoakan mereka dengan sungguh-sungguh mendoakan mereka dengan tulus kita bisa memaafkan mereka. Dan puji Tuhan sampai saat ini saya tidak pernah lagi merasakan kekecewaan dan sakit hati yang dulu saya rasakan, walaupun persahabatan saya yang dulu belum sepenuhnya kembali. Tapi saya tetap percaya suatu saat semuanya akan kembali seperti yang dahulu kala.
Jadi, apabila ada Sahabat yang Menusukmu, doakan dia , maafkan dia, dan engkau akan merasakan damai dalam kehidupanmu :)
![]() |
| Sumber: Google |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar